Minggu, 24 Mei 2015

macapat sebagai warisan wali songo



Macapat Sebagai Warisan Wali Sanga



Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
       Penyebaran Islam di tanah Jawa tidak lepas dari sepak terjang para sembilan wali atau masyarakat Jawa sering menyebut wali songo. Wali songo diyakini sebagai ulama penyebar agama islam pertama di tanah jawa. Dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa para wali di kenal sering menggunakan pendekatan budaya dan kebiasaan masyarakat sekitar.
       Para sunan atau wali dikenal sangat pintar dalam berdakwah dan mengambil hati masyarakat, dengan menggabungkan antara kesenian dan kaidah-kaidah islam. Berkat kepiawayan para sunan dalam berdakwah membuat para masyarakat di pulau jawa tertarik untuk memeluk islam hingga berlanjut sampai saat ini.
       Hal tersebut yang menjadi latar belakang kami memilih macapat sebagai fokus riset kami dimana tidak hanya sebagai tembang macapat juga memiliki misi terselubung sebagai media dakwah yang efektif pada masa wali sanga saat menyebarkan ajaran Isalam ditanah Jawa. 
B. Rumusan Masalah
1.      Apa arti etimologi macapat ?
2.      Bagaimana sejarah terciptanya macapat ?
3.      Apa alasan diciptakannya macapat ?
4.      Apa jenis-jenis tembang macapat ?
5.      Bagaimana struktur tembang macapat ?
C. Tujuan
1.      Mengetahui etimologi macapat.
2.      Mengetahui sejarah penciptaan macapat dan alasan penciptaannya.
3.      Mengetahui makna dari tiap-tiap jenis macapat.



Bab II
Pembahasan

A. Etimologi Macapat
Pada umumnya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Seorang pakar Sastra Jawa, Arps menguraikan beberapa arti-arti lainnya di dalam bukunya Tembang in two traditions.
Selain yang telah disebut di atas ini, arti lainnya ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat.
Kemudian menurut Serat Mardawalagu, yang dikarang oleh Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya ialah “melagukan nada keempat”. Selain maca-pat-lagu, masih ada lagi maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu. Konon maca-sa termasuk kategori tertua dan diciptakan oleh para Dewa dan diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Ternyata ini termasuk kategori yang sekarang disebut dengan nama tembang gedhรฉ. Maca-ro termasuk tipe tembang gedhรฉ di mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara.
Maca-tri atau kategori yang ketiga adalah tembang tengahan yang konon diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Dan akhirnya, macapat atau tembang cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali.





B. Sejarah Macapat
Macapat sebagai sebutan puisi jawa pertengahan dan jawa baru, yang hingga kini masih digemari masyarakat, ternyata sulit dilacak sejarah penciptaanya. Menurut narasumber, berpendapat bahwa tembang macapat digunakan pada awal periode Islam.
Karseno Saputra memperkirakan atas dasar analisis terhadap beberapa pendapat beberapa pendapat dan pernyataan. Apabila pola metrum yang digunakan pada tembang macapat sama dengan pola metrum tembang tengahan dan tembang macapat tumbuh berkembang sejalan dengan tembang tengahan, maka diperkirakan tembang macapat telah hadir dikalangan masyarakat peminat setidak-tidaknya pada tahun 1541 masehi. Perkiraan itu atas dasar angka tahun yang terdapat pada kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J atau 1541 masehi. (Saputra, 1992 : 14 )
Penentuan ini berpangkal pijak dari pola metrum macapat yang paling awal yang terdapat pada kidung Subrata. Sekitar tahun itu hidup berkembang puisi berbahasa jawa kuno, jawa tengahan dan jawa baru yaitu kekawin, kidung dan macapat. Tahun perkiraan itu sesuai pula dengan pendapat Zoetmulder lebih kurang pada abad XVI di jawa hidup bersama tiga bahasa, yaitu jawa kuno, jawa tengahan dan jawa baru.
Dalam Mbombong manah I ( Tejdohadi Sumarto, 1958 : 5 ) disebutkan bahwa tembang macapat ( yang mencakup 11 metrum ) di ciptakan oleh Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaransari di Sigaluh pada tahun Jawa 1191 atau tahun Masehi 1279. Tetapi menurut sumber lain, tampaknya macapat tidak hanya diciptakan oleh satu orang, tetapi oleh beberapa orang wali dan bangsawan. ( Laginem, 1996 : 27 ). Para pencipta itu adalah Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra dan Adipati Nata Praja.

C. Alasan Penciptaan Macapat
Mengajarkan sebuah keyakinan baru kepada sekelompok orang (suku bangsa) bukanlah perkara yang mudah apalagi jika kelompok (suku bangsa) tersebut sudah memiliki keyakinan yang telah sangat lama dianut hingga berpuluh-puluh generasi. Hal itu pernah dirasakan Wali Sanga dalam mengajarkan Islam ditanah Jawa mereka  harus memutar menggunakan metode dakwah yang tidak biasa agar ajaran Islam bisa diterima mengingat saat itu ajaran Hindu dan Budha masih sangat kental dan juga tradisi masyarakat yang masih banyhak memegang teguh dengan adat warisan nenk monyang (kejawen) yang notabene banyak yang menyimpang dari ajaran Islam. Maka para Sunan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga.
Menurut sumber yang kami dapat dari seorang narasumber para Sunan menciptakan macapat menciptakan macapat karena terinspirasi dari masyarakat sekitar yang gemar dengan seni seperti tarian, syair, sampai dengan pagelaran-pagelaran seperti wayang dan pertunjukan seni lainnya. Oleh karena itu para Sunan menciptakan sebuah tembang yang didalamnya terdapat makna alur kehidupan tidak lupa dibumbui dengan ajaran-ajaran Islam yang terdapat pada lirik dan syairnya agar dapat menarik hati masyarakat pada saat itu.

D. Jenis-Jenis Tembang Macapat
1. Maskumambang (dalam kandungan)
       Dalam bahasa jawa “kumambang” berarti mengambang. Tembang ini menggambarkan kehidupan manusia yang masih ada di dalam kandungan, yaitu di perut ibunya.
2. mijil (lahir)
       Dalam bahsa jawa “mijil” berarti muncul atau lahir. Tembang ini menggambarkan kelahiran bayi.
3. sinom (muda)
       Dalam bahasa jawa ”kanoman” berarti masa muda. Tembang ini menggambarkan masa muda yang indah penuh dengan harapan, angan-angan, dan mencari ilmu untuk mewujudkannya.
4. kinanthi (tuntutan)
Dalam bahsa jawa “kanthi” berartituntutan atau dituntut untuk menggapai masa depan. Tembang ini menggambarkan masa dimana manusia membentuk jati diri dan meniti jalan menuju cita-cita.
5. Asmarandana (asmara)
Dalam bahasa jawa “tresna” berarti cinta atau kasmaran. Tembang ini menggambarkan dimana manusia dirundung asmara.
6. Gambuh (cocok)
Dalam bahasa jawa “jumbuh” berarti cocok. Tembang ini menggambarkan komitmen manusia yang sudah menyatakan cinta dan siap untuk berumah tangga.
7. Dhandanggula (senang)
Dalam bahasa jawa “kasembadan” berarti kesenangan. Tembang ini menggambarkan keberhasilan seseorang dalam membina rumah tangga.
8. durma (dermawan)
Dalam bahsa jawa “darma” berarti dermawan atau senang bersedekah. Tembang ini menggambarkan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah SWT yang telah memberikan kehidupan yang terbaik.
9. Pangkur(Menjauh)
Dalam bahasa jawa “mangkur” berarti menjauhi. Tembang ini menggambarkan manusia yang berusaha menjauhi hawa nafsu angkara murka dan nafsu negatif  yang menggerogoti jiwa manusia.
10.Megatruh(kematian)
Dalam bahasa jawa “megat roh” berarti keluarnya roh. Tembang ini menggambarkan terlepasnya dari raga manusia.
11. Pocung(dibungkus kain putih)
Dalam nahasa jawa “pocong” berarti dibungkus. Tembang ini menggambarkan manusia yang sudah mati kemudian dimandikan, disholatkan, dikafankan, dan siap untuk dikuburkan.
12. Wirangrong(dimasukan kedalam tanah)
Dalam bahasa jawa “ngerong” berarti didalam tanah. Tembang ini menggambarkan manusia yang sudah dipocong kemudian dimasukkan ke dalam tanah.




E. Struktur Tembang Macapat
Dalam khasanah budaya Jawa salah satu kekayaan yang hingga kini masih dapat kita nikmati adalah ragam seni suara dalam bentuk tembang/lagu. Sekilas, menurut sejarahnya, tembang dalam budaya Jawa terbagi menjadi beberapa bagian seturut dengan zaman kemunculannya. Macam-macam tembang Jawa tradisional tersebut adalah: Sekar Kakawin, Sekar Ageng, Sekar Tengahan, Sekar Macapat, Tembang Dolanan Gagrag Lawas dan Gagrag ร‰nggal. Dalam perkembangannya, khasanah lagu/tembang kini semakin beraneka ragam dengan munculnya tembang-tembang baru sesuai dengan masuknya aneka genre musik yang sedikit banyak juga turut memperkaya keberadaan tembang-tembang Jawa.
Dalam kesempatan ini saya akan mencoba membantu memperkenalkan salah satu jenis tembang klasik tradisional Jawa, yaitu Sekar/Tembang Macapat. Agar lebih jelas dan menarik, maka di awal tulisan saya ini sengaja saya akan menyampaikan contoh-contoh serta aturan pembuatan sebuah tembang Macapat. Dalam tembang Macapat dikenal beberapa istilah yang digunakan sebagai acuan dalam membuat/menggubah sebuah tembang. Adapun istilah-istilah beserta pengertian sederhananya adalah sebagai berikut:
1. Wilangan/Guru Wilangan : jumlah suku kata dalam sebuah kalimat
2. Guru Lagu/Dhong-dhing : huruf vokal/bunyi yang terdapat pada suku kata                             terakhir pada suatu baris kalimat lagu
3. Gatra : jumlah kalimat/baris yang terdapat dalam satu bait lagu
4. Pupuh : bait lagu
Di dalam tembang Macapat terdapat 11 jenis/ragam tembang. Masing-masing memiliki nama, ciri khas, perwatakan, dan peruntukan tersendiri. Namun bahasan kali ini hanya akan saya batasi tentang jenis/ragam tembang yang termasuk tembang Macapat beserta aturan bakunya saja (penentuan jumlah gatra, wilangan dan guru lagu). Kesebelas tembang yang termasuk di dalam Sekar Macapat tersebut adalah sekar/tembang: Pocung, Maskumambang, Gambuh, Megatruh, Mijil, Kinanthi, Pangkur, Durma, Asmaradana, Sinom, dan Dhandhanggula.
Sebagai pemahaman awal, perlu saya sampaikan bahwa aturan baku tembang Macapat yang berupa aturan jumlah gatra/larik/kalimat, guru wilangan maupun guru lagu dari masing-masing tembang sudah merupakan ketentuan baku yang tidak bisa diubah. Untuk mempermudah, pada masing-masing tembang akan saya sertakan keterangan jumlah gatra dalam satu pupuh/bait. Sedangkan keterangan di belakang masing-masing larik/baris yang berupa angka dan huruf vokal menunjukkan jumlah guru wilangan dan guru lagu.
Disamping itu, keindahan tembang Jawa, terutama Sekar Macapat juga terletak pada keindahan penempatan dan pemilihan kata. Sebagai contoh sekaligus acuan untuk membuat tembang Macapat, berikut ini kami tuliskan ragam tembang Macapat.

1. POCUNG
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 4 gatra
Contoh:
Mapan รฉwuh tinitah dadi kang sepuh (12u)
Tan kena gumampang (6a)
Nadyan marang sadulurรฉ (8e)
Tuwa anom aja bรฉda traping karya (12a)

2. MASKUMAMBANG
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 4 gatra
Contoh:
Kang tan manut pitutur wong tuwa ugi (12i)
Panemu duraka (6a)
Ing donya tumekรจng akir (8i)
Tan wurung kasurang-surang (8a)

3. GAMBUH
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 5 gatra
Contoh:
Sekar Gambuh ping catur (7u)
Kang cinatur tutur kang kalantur (10u)
Tanpa tutur katula-tula katali (12i)
Kadaluwarsa kapatuh (8u)
Kapatuh pan dadi awon (8o)

4. MEGATRUH
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 5 gatra
Contoh:
Yรจn Suwanda baรฉ yayi kang kadulu (12u)
Sasrabahu kang kaรจksi (8i)
Yรจn Sasrabahu kadulu (8u)
Suwanda datan kaรจksi (8i)
Dรจn awas panunggal loro (8o)

5. MIJIL
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 6 gatra
Contoh:
Apan uwus ubayรจng narpati (10i)
Rumeksรจng kaprabon (6o)
Kang wus tetep rumeksa ing akรจh (10e)
Kalaraning praja dรจn pakรฉling (10i)
Larapana ing sih (6i)
Wadya saprajรจku (6u)

6. KINANTHI
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 6 gatra
Contoh:
Pinandeng sarwi tumungkul (8u)
Anoman ngiling-ilingi (8i)
Sarta myarsakken karuna ((8a)
Sumedhot tyasira nenggih (8i)
Iya iki apa baya (8a)
Kusuma Putri Manthili (8i)

7. PANGKUR
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra
Contoh:
Lawan ambegรฉ sadaya (8a)
Wregung alit ambeg sapati urip (11i)
Ratunรฉ wre wus angratu (8u)
Ring Sang Rama Wijaya (7a)
Ciptanira lebur luluh ing satuduh (12u)
Rama ingaken Jawata (8a)
Sungkemรฉ ing pati urip (8i)

8. DURMA
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra
Contoh:
Kadya pinuh sariranya dรฉning kang rah (12a)
Wauta Sang Apekik (7i)
Regawa kumesar (6a)
Muring ring tyas mangarang (7a)
Marang ngendi sira yayi (8i)
Jurang hingungak (5a)
Manawa tibรจng trebis (7i)

9. ASMARADANA / ASMARANDANA
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 7 gatra
Contoh:
Katon asihira yayi (8i)
Tresna maring kadang tuwa (8a)
Iya sapa kaya kowรฉ (8e)
Wus kรจthรจr isining jagad (8a)
Tumon kasektรจnira (7a)
Dasamuka wusnya wuwus (8u)
Kang rayi lon aturipun (8u)

10. SINOM
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 9 gatra
Contoh:
Wong Agung Rama Wijaya (8a)
Mangunรจng tyas tan pinanggih (8i)
Tan ana wenganing driya (8a)
Dรฉnรฉ kalangan jaladri (8i)
รˆnget pandhita nguni (7i)
Sutikna Yogi turipun (8u)
Bรฉsuk pan kalampahan (7a)
Angadoni jayรจng jurit (8i)
Mring Ngalรฉngka sedhih kalangan samodra (12a)

11. DHANDHANGGULA
Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 10 gatra
Contoh:
Sasmitaning aurip puniki (10i)
Apan รฉwuh yรจn ora weruha (10a)
Tan jumeneng ing uripรฉ (8e)
Akรจh kang ngaku-aku (7u)
Pangrasanรฉ sampun udani (9i)
Tur durung wruh ing rasa (7a)
Rasa kang satuhu (6u)
Rasaning rasa punika (8a)
Upayanen dara pan sampurna ugi (12i)
Ing kauripanira (7a)
Catatan:
Untuk memperindah serta menyesuaikan dengan guru wilangan, maka di dalam membuat Sekar Macapat seringkali ada kata-kata yang digabungkan, atau dicarikan padanannya.
Contoh penggabungan:
nuju ing ร  nujwรจng
suka ing ร  sukรจng
madyaning ร  madyรจng
Contoh padanan:
samodra = jalanidhi = jaladri
manungsa = wong = jalmi
roh = suksma
Gusti = Hyang Widi = Hyang Ma Wasรฉsa


Sabtu, 23 Mei 2015




MAKALAH BAHASA INDONESIA
RAGAM BAHASA


Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Endang Rahmawati, S.Pd, M.Pd

Disusun Oleh :
1.      Reni Muazizah      (145131016)
2.      Siti Nur Alfiyah    (145131021)
3.      Ravita Anggraini   (145131023)
4.      Vivera Marlianti    (145131024)
5.      Heppy Apriyani    (145131037)
6.      Arnisa Ika Prilia    (145131034)

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2015
A.    PENDAHULUAN
Bahasa indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan dalam beragam keperluan disesuaikan situasi dan kondisi. Keanekaragaman penggunaan bahasa itulah yang dinamakan ragam bahasa indonesia. Oleh karena itu, bahasa disebut sebagai alat komunikasi terpenting bagi manusia, sehingga mempelajarinya dengan lebih mendalam akan memudahkan dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Secara garis besar ragam bahasa dibagi menjadi dua ragam bahasa yaitu ragam bahasa formal dan ragam bahasa informal. Masing-masing ragam bahasa memiliki ciri-ciri yang menunjukkan perbedaan diantara masing-masing ragam bahasa tersebut. Pemakaian ragam bahasa perlu disesuaikan antara situasi dan fungsi pemakaian. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia terhadap sarana komunikasi juga bermacam-macam. Untuk itu, kebutuhan sarana komunikasi bergantung pada situasi pembicaraan yang berlangsung.
B.     PENGERTIAN RAGAM BAHASA
Kridalaksana mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan.Jadi, ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya, yang timbul menurut situasi dan fungsi yang  memungkinkan adanya variasi tersebut. Ragam bahasadianggapsebagairagam yang baik, apabilasudahdigunakandenganbaik dikalangan terdidik, didalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), didalam suasana resmi atau didalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono, bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa indonesia timbul masalah pokok, yaitu: masalah penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Situasi yang resmi kita dituntut menggunakan bahasa yang baku misal situasi disekolah, dikantor, maupun pertemuan resmi. Sebaliknya bahasa tidak baku dapat kita gunakan dirumah, taman, pasar dll.

C.    PEMBAGIAN RAGAM BAHASA
1.      Penggunaan bahasa menurut konteks. Terdapat dua jenis ragam bahasa, yaitu bahasa formal dan tidak formal.
a.      Ragam Bahasa Formal
Bahasa formal ialah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi contohnya saat mengajar, rapat, atau bertutur dengan orang yang kita tidak kenal dekat atau lebih tinggi status dan pangkatnya.
Ciri-ciri bahasa formal sebagai berikut :
1)      menggunakan unsur secara dramatikal secara eksplisit dan konsisten;
2)      menggunakan imbuan secara lengkap;
3)      menggunakan kata ganti resmi;
4)      menggunakan kata baku;
5)      menggunakan kata EYD; dan
6)      menghindari unsur kedaerahan.
Bahasa baku sebagai ragam bahasa formal untuk orang berpendidikan, dan memiliki beberapasifat. Pertama, sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Kedua, bersifat kecendekiaan, cendrung menggungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Ketiga, adanya penyeragaman kaidah baku, bahasa kedalam bahasa Indonesia.penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa. Kegunaan dari penyeragaman ini adalah untuk menyamakan presepsi atas suatu. Keempat , bersifat dinamis. Dinamis yang artinya tidak statis, tidak baku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati.
b.      Ragam Bahasa Nonformal
Ragam bahasa nonformal digunakan pasca situasi santai dan kepada orang yang dikenal akrab. Kuantitas pemakaian bahasa tidak resmi banyak tergantng pada tingkat keakraban pelaku yang terlibat dalam komunikasi. Prinsip yang dipakai dalam bahasa tidak resmi adalah asal orang yang diajak bicara yang bisa mengerti.
Bahasa nonformal mempunyai sifat yang khas, yaitu :
1)      Bentuk kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung; dan
2)      Menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-hari. Contoh: bilang, bikin, biarin dll.
Pada perkembangannya, bahasa nonformal menciptakan ragam bahasa yang bervariatif berdasarkan pemakaiannya seperti bahasa gaul. Dari segi fungsinya bahasa gaul memiliki persamaan antara slang, jargon dan prokem. Fungsi slang dan prokem digunakan untuk merahasiakan sesuatu kepada kelompok lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa jargon adalah kosa kata khusus yang dipergunakan dibidang kehidupan (lingkungan) tertentu.

2.      Penggunaan Bahasa Menurut Waktu
Dalam hal ini ragam bahasa berdasarkan waktunya dapat dibagi menjadi tiga yaitu bahasa ragam lama atau kuno, bahasa ragam baru atau modern, bahasa ragam kontemporer.
Bahasa ragam kuno dapat diketahui keberadaannya melalui sejumlah dokumen kuno, prasasti-prasasti dan tulisan-tulisan dalam peranti yang masih sangat sederhana. Sedangkan bahasa ragam baru dimungkinkan terjadi inovasi-inovasi kebahasaan yang baru. Dalam perkembangan bahasa yang sekarang ini bentuk kebahasaan yang baru mengabaikan kaidah-kaidah kebahasaan yang telah banyak bermunculan. Bahasa inilah yang disebut dengan bahasa kontemporer.
3.      Ragam Bahasa Berdasarkan Medianya
Dilihat dari dimensi bahasanya, ragam bahasa dibedakan menjadi dua, yaitu bahasa ragam lisan dan bahasa ragam tulis. Bahasa ragam lisan lazimnya ditandai dan ditentukan oleh penggunaan aksen-aksen bicara atau penekanan-penekanan tertentu dalam aktivitas bertutur, pemakaian intonasi atau lagu kalimat tertentu.
Selanjutnya yang dimaksud dengan bahasa ragam tulis adalah bahasa yang hanya tepat muncul dalam konteks tulis. Bahasa dalam ragam tulis harus sangat cermat dalam pemakaian tanda bacanya, dalam pemakaian ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf dan seterusnya.
Ragam lisan dan Ragam tulis tentu sangat berbeda. Adapun perbedaanya adalah sebagai berikut :
1)      Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan.
2)      Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap dari pada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada didepan pembicara. Kelengkapan ragam tulis Menghendaki agar orang yang “diaerikatjak bicara” mengerti isi tulisan itu.
3)      Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan didalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa  yang diperbicarakan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang itu. Sebaliknya, ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu.
4)      Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkap dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.


4.      Ragam Bahasa Berdasarkan Keresmian Keadaan Penggunaannya
Berdasarkan dilihat dari kresmian penggunaanya ragam bahasa dibedakan menjadi dua,  yaitu ragam sosial dan ragam fungsional. Ragam sosial yaitu, ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional, adalah ragam bahsa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Dalam kenyataannya, ragam fungsional menjelma sebagai bahasa negara dan bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa dalam kelingkungan keilmuan atau teknologi dan kedokteran.
















D.    PENUTUP
Bahasa indonesia sebagai alat komunikasi yang dipakai dalam keperluan, disesuikan dengan situasi dan kondisi. Keanekaragaman penggunaan bahasa Indonesia itulah yang dinamakan ragam bahasa Indonesia. Namun, ragam bahasa ini harus disesuaikan dengan penggunaan yang benar, yaitu harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sesuai.
Ragam bahasa dibagi menjadi beberapa bentuk yaitu menurut konteks, waktu, dan medianya. Ragam bahasa menurut konteksnya dibagi menjadi formal dan non formal, bahasa nonformal menciptakan ragam bahasa yang bervariatif berdasarkan pemakaiannya misalnya bahasa gaul.




















DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal, Amran Tasai. Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Tangerang : Pustaka Mandiri. 2012.
Nasucha, Yakub, Muhammad Rohmadi, Agus Budi Wahyudi. Bahasa Indonesia untuk Penulis Karya Tulis Ilmiyah. Yogyakarta: Media Perkasa. 2014.

Rabu, 20 Mei 2015

peradaban Islam masa Nabi Muhammad SAW



Dakwah Nabi Muhammad S.A.W periode mekah dan madinah
1.      Gambaran secara umum misi dakwah nabi muhammad saw
Kondisi bangsa arab sebelum islam datang sangat memprihatinkan, akhlak atau moral masyarakatnya jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Perzinahan, perbudakan, perang antar suku, dan mabuk sudah menjadi hal yang dianggap wajar, sedangkan dari aspek agama orang-orang mekah adalah penyembah berhala. Berangkat dari sinilah Allah swt mengutus nabi muhammad saw yang tujuan utamanya adalah menegakkan kalimat tauhid “laa ilaaha illAllah wa asyhadu anna muhammadur rasulullah” yang mengandung makna pengesaan Alloh SWT sebagai satu-satunya tuhan yang berhak disembah dan penegasan bahwa nabi muhammad  adalah utusan Alloh SWT, serta untuk memperbaiki moral atau akhlaq bangsa arab sesuai dengan hadis beliau “innii bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” yang artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.
2.      Pengangkatan muhammad menjadi nabi dan rasul
Proses pengangkatan muhammad menjadi nabi dan rasul dimulai saat muhammad bertahannuts di gua hira. Nabi muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh imam bukhari, terbiasa melakukan tahnnuts dan menyendiri selama sekian hari, yakni bisa jadi sepuluh hari, bahkan sampai sebulan, kegiatan itu dilukiskan oleh aisyah ra sebagai ilaihi al kholau khubbiba dicintakan kepadanya menyendiri, yakni menyendiri itu dijadikan Allah kesukaan bagi beliau.
pada malam ke 17 ramadhan  tepatnya 6 agustus 610 M dan bertepatan dengan usia beliau yang ke empat puluh beliau menerima wahyu pertamanya yang sekaligus menandakan beliau menjadi nabi dan rasul yakni qs al alaq 1-5[1].
3.      dakwah nabi Muhammad saw di mekkah
setelah diutus menjabi nabi dan rasul, nabi Muhammad menghadapi tantangan dari kaum kafir quraisy dalam menyebarkan ajaran islam yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang mereka.
·         Fase dakwah secara sembunyi-sembunyi
Dikarenakan adanya tantangan dari kaum kafir quraisy nabi muhammad saw memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyiatauBisirri (secara rahasia) adalah dakwah Rosulluloh dalam mengembangkan risalah Alloh sewaktu pertama kali mendapat amanah dari alloh untuk menjalankan misi kerasulannya. Dakwah ini berlangsung dalam kurun waktu 3 tahun dari massa kenabian Muhammad. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini sasaran pertama adalah keluarga satu rumah rosulluloh yaitu Khadijah dan anak-anaknya. Dan yang kedua adalah sahabat-sahabat terdekat Nabi seperti Abu Bakar dan usman bin Affan . sasaran dakawah ke tiga adalah kerabat atau family terdekat Nabi, seperti Ali bin abi tholib dan Ja’far bin abi tholib.Tidak semua keluarga dan kerabat terdekat Nabi menerima Agama islam.bahkan tidak sedikit keluarga rosulluloh yang menentang dan memusuhinya seperti Abu Lahab paman Nabi sendiri.

·         Fase dakwah secara terang-terangan
Setelah melakukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi nabi muhammad mendapatkan perintah untuk berdakwah secara terang-terangan setelah turunnya Surat Al- Hijr ayat 94.
Ayat tersebut memerintahkan agar Rosulluloh mensyiarkan islam secara terbuka. Rosulluloh dihadapan bangsa Arab menyampaikan dakwah secara terbuka untuk menyembah kepada Alloh dan mengesakannya. Dakwah yang bersifat terbuka ini pertama kali ditujukan kepada kerabatnya sendiri, lalu kepada Masyarakat dan Kabillah-kabillah Arab lainnya yang datang ke mekkah untuk ibadah Haji. Dengan seruan dakwah secara terang-terangan ini maka dakawah Rosulluloh semakin luas dan pengikutnya bertmbah banyak. Rosulluloh menyerukan secara tegas pada Mayarakat umum untuk meninggalkan berhala dan tradisi nenek moyang mereka yang tidak menyembah kepada alloh.
Nabi muhammad saw menyampaikan dakwah secara terang-terangan kepada seluruh masyarakat mekkah pertama kali di bukit shafa. Seruan ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal dimana rasulullah telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk dari efektifitas hubungan antara dirinya dengan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh orang-orang arab akan mencair dibawah terik panasnya peringatan yang datang dari Allah tersebut[2].
Reaksi masyarakat mekkah terhadap seruan nabi Muhammad saw
Masyarakat mekkah terbelah menjadi dua dalam menyikapi dakwah nabi muhammad saw, ada yang menerima dakwah nabi muhammad serta ada yang memusuhi dakwah nabi muhammad yakni kaum kafir quraisy. Beragam cara dilakukan kaum kafir quraisy untuk menghambat dakwah nabi muhammad saw
Pertama, mengejek, menghina, merendahkan, mendustai dan menertawakan. Target mereka adalah menghinakan kaum muslimin dan melemahkan semangat juang mereka. Mereka selalu menuduh rasulullah saw dengan tuduhan-tuduhan yang kerdil dan celaan-celaaan yang nista; menjuluki beliau sebagai orang gila[3]
Kedua, memperburuk citra ajaran-ajaran yang dibawanya, menyebarkan syubhat-syubhat, menyebarkan dakwaan-dakwaan dusta, menyiarkan aneka pernyataan yang keliru seputar ajaran-ajaran, diri, dan pribadi beliau serta membesar-besarkan tentang hal itu[4].
Ketiga, menghalangi orang-orang agar tidak dapat mendengarkan Al-qur’an dan mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta membuat sibuk mereka dengan hal itu[5].
Akantetapi nabi muhammad tetap gigih dalam mensyiarkan agama islam meskipun kaum kafir quraisy memusuhi dan mencaci maki beliau. Kaum kafir quraisy pun tidak tinggal diam dalam usahanya menghentikan dakwah nabi muhammad saw, bahkan kaum kafir quraisy mulai melakukan penindasan dan penyiksaan terhadap nabi muhammad dan kaum muslimin




4.      Dakwah nabi muhammad saw di madinah
A. Faktor yang menorong hijrahnya Nabi saw
1. Ada tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib, karena:
pada tahun 621 M telah dating 13 orang penduduk Yatsrib menemuiNabi saw di bukit Akabah.pada tahun berikutnya, 622 M datang lagi sebanyak 73 orang Yatsrib ke Mekkah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj
2. Rencana pembunuhan Nabi saw oleh kaum Quraisy
3. masyarakat madinah mempunyai hati yang lembut, penuh pertimbangan dan cerdas
4. penyiksaan dan penindasan dari kaum kafir quraisy terhadap rasulullah saw dan kaum muslimin semakin menjadi-jadi
kepercayaan masyarakat madinah pra-islam
sebelum kedatangan islam ke kota yatsrib, masyarakatnya telah memiliki agama atau kepercayaan. Agama yang dianut sebagian masyarakat kota ini adalah agama yahudi dan nasrani, selain agama pagan[6].  Kabilah yang menganut agama yahudi adalah bani qainuqa, bani nadhir, bani gathafan, dan bani quraydloh, sedangkan kabilah yang menganut agama nasrani adalah bani najran.
Periode madinah dapat dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu tahapan pertama, banyak diwarnai dengan cobaan, guncangan dan rintangan, baik dari dalam kota Madinah maupun dari luar Madinah, khususnya orang quraisy. Tahap ini berakhir dengan dikukuhkannya perjanjian Hudaibiyah pada zulqa’dah tahun keenam hijriyah. Tahapan kedua, ditandai dengan perdamaian dengan para pemimpin kaum musyrikin yang berakhir dengan terjadinya Fathu Makkah pada ramadhan tahun ke-8 dari awal hijrah. Peristiwa ini menandai tahapan awal Rasulullah saw kepada para penguasa agar masuk islam. Tahapan ketiga, ditandai dengan masuknya manusia ke dalam islam secara berbondong-bondong, yaitu masa kedatangan para utusan dari berbagai kabilah dan kaum ke madinah. Masa ini berkahir ketika wafatnya rasulullah saw pada rabi’ul awwal tahun sebelas hijriyah[7].
Cara rasulullah saw berdakwah di madinah
A.    Membangun masjid nabawi
Langkah pertama yang dilakukan oleh rasulullah saw di madinah adalah membangun masjid sebagai pusat kegiatan umat. Di masjid inilah semua pusat kegiatan umat islam dilakukan baik dalam urusan agama seperti shalat, tempat menimba ilmu dari rasulullah saw, maupun dalam urusan sosial seperti sebagai tempat balai pertemuan, tempat untuk mempersatukan berbagai kabilah, sebagai tempat mengatur berbagai urusan kemasyarakatan, sekaligus tempat sebagai menjalankan roda pemerintahan.
B.     Mempersaudarakan kaum anshor dan muhajirin
Rasulullah saw melakukan tindakan yang sangat luar biasa yakni mempersaudarakan kaum anshor dan muhajirin, tindakan ini bertujuan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah antar sesama umat muslim di madinah serta menegaskan bahwa perbedaan keturunan, warna kulit dan kekayaan tidak menyebabkan seseorang itu unggul, karena keunggulan seorang manusia ditentukan oleh ketaqwaannya.
C.     Membuat perjanjian dengan kaum yahudi madinah
Nabi muhammad membuat langkah yang sangat strategis dalam upaya dakwahnya di madinah yakni membuat perjanjian dengan kaum yahudi agar tujuan dan target dakwahnya berhasil, tanpa merasa khawatir atas berbagai gangguan dan ancaman. Nabi muhammad melakukan musyawarah dengan para sahabat dari kalangan muhajirin dan anshor untuk merumuskan pikiran yang akan dijadikan undang-undang yang didalamnya terkandung aturan yang dibuat untuk kaum muhajirin, anshor, yahudi dan kaum musyrikin lainnya agar bersedia hidup berdampingan dengan umat islam secara damai. Undang-undang ini dikenal dengan nama piagam madinah.
D.    Respons masyarakat madinah terhadap dakwah nabi muhammad saw
Sejak rasulullah saw menetap di madinah beliau senantiasa berdakwah menyebarkan agama islam kepada seluruh masyarakat madinah. Dakwah yang dilakukannya itu mendapat sambutan beragam, ada yang menerima dan kemudian masuk islam dan ada pula yang menolak secara diam-diam, misalnya orang yahudi yang tidak senang dengan kehadiran nabi dan umat islam. Penolakan ini mereka lakukan secara diam-diam karena mereka tidak berani berterus terang untuk menentang nabi dan umat islam yang mayoritas tersebut[8].
E.     Perdamaian hudaibiyah : kemenangan dakwah islam
Setelah kaum muslimin menang dalam perang khandak umat islam sangat ingin sekali mengunjungi mekkah, tepatnya pada tahun 6 H atau 628 M kaum muslimin dan rasulullah pergi ke mekkah untuk menunaikan umrah. Pada saat itu bertepatan dengan bulan zulkaidah yang menurut tradisi masyarakat arab diharamkan untuk berperang. Kaum kafir quraisy yang mengetahui hal tersebut langsung menghalang kaum muslimin, namun rasulullah saw mengutus usman bin affan untuk menjelaskan niat kaum muslimin kembali ke mekkah. Akhirnya kesepakatanpun terjadi yang isinya antara lain
·         Kedua belah pihak sepakat mengadakan genjatan senjata selama 10 tahun.
·         Setiap orang diberi kebebasan bergabung dengan muhammad saw atau menjalin perjanjian dengan muhammad saw, dan demikian juga setiap orang diberi kebebasan bergabung dengan kelompok quraisy atau menjalin perjanjian dengan mereka.
·         Siapa yang pergi bergabung dengan muhammad saw tanpa alasan yang dapat dibenarkan, ia harus dicegah dan dikembalikan kepada walinya, tetapi jika pengikut nabi muhammad saw hendak bergabung dengan kelompok quraisy, maka ia harap dibenarkan
·         Pada tahun ini rombongan muhammad saw harus kembali ke madinah. Pada tahun berikutnya mereka diizinkan menjalankan ibadah haji dengan syarat bahwa di mekkah tidak lebih dari 3 hari, dengan tanpa membawa senjata

Perjanjian hudaibiyah ini menimbulkan manfaat yang positif diantaranya : gencatan senjata yang dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun itu dapat dimanfaatkan dengan menyebarkanluaskan agama islam, kearifan sikap nabi muhammad saw dalam perjanjian ini telah menarik simpati dari orang-orang quraisy, yang menyebabkan beberapa orang quraisy masuk islam.

F.      Fath al makkah : kemenangan dalam islam
            Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kaum kafir quraisy yang melanggar perjanjian hudaibiyah sehingga timbullah beberapa usulan yang ditawarkan kepada kaum kafir quraisy, namun pada akhirnya kaum kafir quraisy memilih untuk berperang. Tiada jalan lagi bagi nabi muhammad kecuali mempersiapkan pasukan untuk berperang. Dalam waktu yang singkat nabi muhammad saw berhasil mengumpulkan 10.000 pasukan untuk bergerak menuju mekkah. Sebenarnya pasukan umat islam yang besar itu tidak dimaksudkan untuk memerangi orang-orang quraisy, tapi hanya sekedar peringatan kepada masyarakat kafir quraisy, bahwa umat islam telah solid dan memiliki kekuatan yang sangat besar[9].
            Dalam memasuki kota mekkah rasullah saw membagi pasukannya menjadi 4 bagian yaitu utara, selatan, barat dan timur sehingga kota mekkah terkepung dari segala penjuru. Hal tersebut menyebabkan kaum kafir quraisy tidak mampu melawan pasukan islam. Akhirnya tepat pada 1 januari 630 M atau 20 ramadhan 8 H mekkah dapat dikuasai oleh umat islam. Setelah umat islam dapat menaklukkan mekkah rasulullah saw masuk ke masjidil haram dan menghancurkan segala bentuk sesembahan seperti berhala dan sebagainya lalu nabi muhammad saw memerintahkan bilal bin rabbah untuk mengumandangkan adzan lalu melakukan shalat berjamaah.
            Setelah peristiwa fathu makkah orang-orang mekkah berbondong-bondong menyatakan masuk islam mulai dari paman nabi abbas bin abdul muthallib serta beberapa pembesar quraisy seperti muawiyah bin abu sufyan, hindun binti uthbah, muth’ib bin abu lahab, dan umi hanie binti abi thalib.
G.    Haji wada : tanda berakhirnya tugas nabi muhammad
pada tahun ke-10 hijriyah, nabi muhammad saw merasa bahwa dakwahnya telah sempurna. Karena itu, nabi muhammad saw merencanakan untuk menunaikan ibadah haji para sahabatnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan haji al-wada haji yang terakhir ( haji perpisahan ). Dikatakan begitu, karena ketika itu nabi berpamitan kepada para sahabatnya dan menyatakan “ siapa tahu aku tidak dapat lagi bertemu kalian, setelah tahun ini”. [10]
pada saat beliau menjalankan haji ini rasulullah saw mendapat wahyu terakhirnya QS al-maidah ayat 3

yang artinya pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu dan agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai islam itu jadi agamamu.
Pada senin tanggal 12 rabiul awwal bertepatan dengan tanggal 8 juni 632 M rasulullah saw menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelas hari menderita sakit akibat terkena racun yang diberikan wanita yahudi ketika perang khaibar. Demikianlah kehebatan rasululllah saw dalam usahanya menegakkan agama islam, beliau adalah laki-laki yang tidak tertandingi sepanjang umat manusia.




[2] Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010, hal.95
[3] Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010, hal.99

[4] Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010, hal.100

[5]Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010, hal.100

[6] murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada media group, 2013, hal. 111.
[7]Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010, hal.226.


[8]. murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada media group, 2013, hal. 134.
[9]murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada media group, 2013, hal. 157.
[10]murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada media group, 2013, hal. 165.