UNSUR-UNSUR
HADIS
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah: UlumulHadist
Dosen Pengampu: H.
Muh.AjiNugroho, Lc, M.Pd.I.
Disusun
Oleh:
Asep Priyanto (145131002)
Sulastriyani (145131026)
Andirasari (145131033)
JURUSAN PERBANKAN SYARI’AH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2015
UNSUR-UNSUR HADIST NABI
A. Pendahuluan
Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, yang menjadi pedoman umat islam
di dunia. Hadits merupakan penjelas hukum yang terdapat di dalam
al-Qur’an yang masih bersifat
global maupun hukum
yang belum ada
di dalam al-Qur’an. Hadits adalah pekataan, perbuatan, persetujuan dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Di dalam hadits terdapat tiga unsur yang tidak bisa di pisahkan, yaitu sanad, matan dan rawi. Shahih tidaknya hadits terdapat dalam matan dan sanadnya. Sehubungan dengan tiga unsur hadits tersebut, dibawah ini akan dijelaskan mengenai sanad, matan dan rawi hadits.
B.
Pengertian
Rawi, Sanad dan Matan
1. Pengertian Rawi
Secara etimologi rawi berasal dari kata ar-rawi yang artinya orang yang
meriwayatkan
atau memberikan hadits, naqil al-hadits. Secara istilah rawi adalah
orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadits.[1] Semantara menurut Abdul
Majid Khon Rawi adalah orang yang meriwayatkan atau orang yang
menyampaikan periwayatan hadits dari seorang guru kepada orang lain yang
terhimpun kedalam buku hadits. [2]
2. Pengertian Sanad
Secara etimologi
sanad adalah المعتد yang
artinya sesuatu yang dijadikan sandaran, pegangan dan pedoman.[3] Secara istilah sanad
adalah mata rantai perawi hadits yang
menghubungkan sampai kepada matan hadits. Adapun
menurut al badru bin jamaah dan at-tiby yang dimuat dalam bukunya Mudasir sanad
adalah berita tentang jalan matan.[4]
3. Matan
Secara etimologi
matan artinya segala sesuatu yang
keras bagian atasnya. Secara istilah matan
redaksi dari sebuah hadits.[5]
Matan adalah sesuatu kalimat
setelah berakhirnya sanad.[6] Sedangkan
pengertian matan menurut Munzier
Suparta adalah lafaz-lafaz hadits yang didalamnya mengandung
makna-makna tertentu.[7]
Jadi rawi adalah orang yang
meriwayatkan
hadits, sedangkan sanad adalah rangkaian orang-orang yang
meriwayatkan
hadits dan matan adalah lafadz-lafadz yang merupakan isi dari sebuah hadits.contoh:
حدثنا
محمد بن معمر بن ربعي القيس، حدثنا أبو هشام المحزومي عن عبد الواحد وهو ابن زياد
حدثنا عثمان بن حكيم حدثنا محمد ابن المنكدر عن عمران عن عثمان بن عفان قال ؛ قال
رسول الله صلي الله عليه و سلم ؛ من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده حتي
تخرج من تحت أظفاره.(رواه مسلم)
Artinya:“
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ma’mar bin Rabi’i al-Qisi, katanya telah
menceritakan kepadaku Abu Hisyama al-Mahzumi dari Abu Al-Wahid yaitu Ibnu Ziyad, katanya telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Hakim,
katanya telah menceritakan kepadaku Muhammad al-Munkadir, dari ‘Amran, dari
‘Utsman bin Affan r.a. ia berkata ”Barang siapa yang berwudu’ dengan sempurna
(sebaik-baiknya wudu’), keluarlah dosa-dosanya dari seluruh badannya, bahkan dari
bawah kukunya” (H.R. Muslim).
|
No
|
Nama
|
Rowi
|
Sanad
|
|
1
|
Ustman bin affan
|
1
|
8
|
|
2
|
Imran
|
2
|
7
|
|
3
|
Muhamad ibnu Al munkadiri
|
3
|
6
|
|
4
|
Ustman bin hakim
|
4
|
5
|
|
5
|
Abdul wahid
|
5
|
4
|
|
6
|
Abu hisyam Al mahzumi
|
6
|
3
|
|
7
|
Muhamad bin ma’mar bin Rabi al Qisi
|
7
|
2
|
|
8
|
Imam muslim
|
8/mukhoriju al hadits
|
1/mukhorij al hadits
|
C.
Kriteria dan Syarat-syarat Periwayatan Hadits
Kriteria kesahihan hadits:
1. itishal al-sanad (sanadnya bersambung), ada beberapa langkah dalam mengetahui bersambung tidaknya suatu sanad, di antaranya sebagai berikut:
a. mencatat semua rawi dalam sanad yang akan diteliti.
b. mempelajari masa hidup masing-masing rawi.
c. mempelajari bentuk lafal ketika menerima dan mengajarkan hadits.
2. ‘adalat al-rawi (rawinya adil) menurut Al-Razi yang dijelaskan oleh M. Abdurrahman dan
Ella Sumarna, ‘adil didefinisikan sebagai kekuatan ruhani (kualitas spiritual)
yang mendorong untuk selalu berbuat takwa, yaitu mampu menjauhi dosa-dosa besar,
menjauhi kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan
mubah yang menodai maruah, seperti makan sambil berdiri, buang air kecil bukan pada
tempatnya, serta berguarai secara berlebihan.[9]
3. dhabith al-rawi (kemamppuan rawi memelihara hadits) kemampuan rawi dalam memelihara hadits,
baik melalui hafalan atau catatan, yaitu mampu meriwayatkan hadits itu sebagaimana diterimanya.[10]
5. tidak ada ‘illat artinya tidak ada penyakit atau sesuatu yang menyebabkan kesahihan suatu hadits ternodai.[12]
orang-orang yang menyampaikan hadits harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Islam,hadits yang diriwayatkan oleh non muslim tidak dapat diterima.
2. baligh danberakalsehat
3. ‘adalah (adil).
4. al-dabt, yaitu teliti dan cermat baik ketika menerima pelajaran hadits maupun ketika menyampaikannya.[13]
Kriteria dan syarat-syarat tersebut menunjukan
bahwa, para ulama sangat berhati-hati dalam mencari dan menentukan derajat suatu
hadits, mengingat kedudukan hadits yang sangat penting, yaitu sebagai sumber hukum kedua setelah al-qur’an. Selain itu, kualitas perawi
dan kebersambungannya sanad menjadi sebuah urgensi setelah munculnya hadits-hadis
maudhu.
D.
Perbedaan Rawi, Sanad dan Matan Hadits
|
Rawi
|
Sanad
|
Matan
|
|
Orang yang menerima hadits, kemudian menghimpun
dalam suatu kitab tadwin
|
Orang yangmenerima hadits dan hanya menyampaikan
kepada orang lain tanpa membukukannya.
|
Redaksi
|
|
Dalam penyebutan silsilah hadits, untuk rawi
pertama adalah orang yang langsung menerima hadits dari Rasulullah
SAW
|
Dalam penyebutan silsilah hadits, untuk sanad
yang disebut sanad pertama adalah orang yang langsung menyampaikan hadits tersebut kepada penerimanya
|
Redaksi
|
E. Kandungan Matan secara Umum dapat Dikatakan sebagi Hadits
Menurut Solahudin-Din al-Adlabi, yang dijelaskan
oleh Muhamad Syuhudi Ismail ada empat macam tolak ukur kesahihan suatu hadits:
1. Tidak bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an.
2. Tidak bertentangan dengan hadits yang lebih
kuat.
3. Tidak bertentangan dengan akal yang sehat, indera
dan sejarah.
4. Susunan pernyataannya menunjukan ciri-ciri sabda
kenabian.[14]
F.
Kesimpulan
Sanad adalah rangkaian orang-orang yang menyampaikan hadits, bersambung tidaknya suatu sanad
adalah salah satu faktor penentu
derajat hadits. Sanad dan rawi memiliki
kemiripan secara etimologi, namun seperti yang telah dipaparkan bahwa sanad adalah orang yang menerima dan
menyampaikan hadits namun tidak membukukannya, sedangkan rawi adalah orang yang
meriwayatkan hadits lalu
menyampaikan, dan membukukannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Muhamad,
Ellan Sumarna, 2011, Metode Kritik Hadits,Bandung: Remaja Rosdakarya
IsmailM. Syuhudi,
1992, Metodelogi Penelitian Hadits, Jakarta: Bulan Bintanng
Khon Abdul Majid, 2013, Ulumul Hadits,
Cet.2Jakarta: Bumi Aksara
Mudasir.
2010. Ilmu Hadits. Bandung: Pustaka Setia
Munzier,
Suparta. 2011. Ilmu Hadits. Jakarta: Raja Grafindo
Solahudin,
M.
Agus Agus Suyadi, 2009, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia
Zuhri Muhamad, 2003, Hadits Nabi, Yogyakarta:
Tiara Wacan


0 komentar:
Posting Komentar