Dakwah
Nabi Muhammad S.A.W periode mekah dan madinah
1. Gambaran
secara umum misi dakwah nabi muhammad saw
Kondisi
bangsa arab sebelum islam datang sangat memprihatinkan, akhlak atau moral
masyarakatnya jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Perzinahan, perbudakan, perang
antar suku, dan mabuk sudah menjadi hal yang dianggap wajar, sedangkan dari
aspek agama orang-orang mekah adalah penyembah berhala. Berangkat dari sinilah
Allah swt mengutus nabi muhammad saw yang tujuan utamanya adalah menegakkan
kalimat tauhid “laa ilaaha illAllah wa asyhadu anna muhammadur rasulullah”
yang mengandung makna pengesaan Alloh SWT sebagai satu-satunya tuhan yang
berhak disembah dan penegasan bahwa nabi muhammad adalah utusan Alloh SWT, serta untuk
memperbaiki moral atau akhlaq bangsa arab sesuai dengan hadis beliau “innii
bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” yang artinya sesungguhnya aku diutus
untuk menyempurnakan akhlak.
2. Pengangkatan
muhammad menjadi nabi dan rasul
Proses
pengangkatan muhammad menjadi nabi dan rasul dimulai saat muhammad bertahannuts
di gua hira. Nabi muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh imam bukhari,
terbiasa melakukan tahnnuts dan menyendiri selama sekian hari, yakni bisa jadi
sepuluh hari, bahkan sampai sebulan, kegiatan itu dilukiskan oleh aisyah ra
sebagai ilaihi al kholau khubbiba dicintakan
kepadanya menyendiri, yakni menyendiri itu dijadikan Allah kesukaan bagi
beliau.
pada
malam ke 17 ramadhan tepatnya 6 agustus
610 M dan bertepatan dengan usia beliau yang ke empat puluh beliau menerima
wahyu pertamanya yang sekaligus menandakan beliau menjadi nabi dan rasul yakni
qs al alaq 1-5[1].
3. dakwah
nabi Muhammad saw di mekkah
setelah
diutus menjabi nabi dan rasul, nabi Muhammad menghadapi tantangan dari kaum
kafir quraisy dalam menyebarkan ajaran islam yang bertentangan dengan ajaran
nenek moyang mereka.
·
Fase dakwah secara sembunyi-sembunyi
Dikarenakan
adanya tantangan dari kaum kafir quraisy nabi muhammad saw memulai dakwahnya
secara sembunyi-sembunyiatauBisirri
(secara rahasia) adalah dakwah Rosulluloh dalam mengembangkan risalah Alloh
sewaktu pertama kali mendapat amanah dari alloh untuk menjalankan misi
kerasulannya. Dakwah ini berlangsung dalam kurun waktu 3 tahun dari massa
kenabian Muhammad. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini sasaran pertama adalah
keluarga satu rumah rosulluloh yaitu Khadijah dan anak-anaknya. Dan yang kedua
adalah sahabat-sahabat terdekat Nabi seperti Abu Bakar dan usman bin Affan .
sasaran dakawah ke tiga adalah kerabat atau family terdekat Nabi, seperti Ali
bin abi tholib dan Ja’far bin abi tholib.Tidak semua keluarga dan kerabat
terdekat Nabi menerima Agama islam.bahkan tidak sedikit keluarga rosulluloh
yang menentang dan memusuhinya seperti Abu Lahab paman Nabi sendiri.
·
Fase dakwah secara terang-terangan
Setelah
melakukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi nabi muhammad mendapatkan perintah
untuk berdakwah secara terang-terangan setelah turunnya Surat Al- Hijr ayat 94.
Ayat
tersebut memerintahkan agar Rosulluloh mensyiarkan islam secara terbuka.
Rosulluloh dihadapan bangsa Arab menyampaikan dakwah secara terbuka untuk
menyembah kepada Alloh dan mengesakannya. Dakwah yang bersifat terbuka ini
pertama kali ditujukan kepada kerabatnya sendiri, lalu kepada Masyarakat dan
Kabillah-kabillah Arab lainnya yang datang ke mekkah untuk ibadah Haji. Dengan
seruan dakwah secara terang-terangan ini maka dakawah Rosulluloh semakin luas
dan pengikutnya bertmbah banyak. Rosulluloh menyerukan secara tegas pada
Mayarakat umum untuk meninggalkan berhala dan tradisi nenek moyang mereka yang
tidak menyembah kepada alloh.
Nabi
muhammad saw menyampaikan dakwah secara terang-terangan kepada seluruh
masyarakat mekkah pertama kali di bukit shafa. Seruan ini merupakan bentuk dari
esensi penyampaian dakwah yang optimal dimana rasulullah telah menjelaskan
kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan
risalah yang dibawanya tersebut adalah bentuk dari efektifitas hubungan antara
dirinya dengan mereka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang
dibudidayakan oleh orang-orang arab akan mencair dibawah terik panasnya
peringatan yang datang dari Allah tersebut[2].
Reaksi
masyarakat mekkah terhadap seruan nabi Muhammad saw
Masyarakat
mekkah terbelah menjadi dua dalam menyikapi dakwah nabi muhammad saw, ada yang
menerima dakwah nabi muhammad serta ada yang memusuhi dakwah nabi muhammad
yakni kaum kafir quraisy. Beragam cara dilakukan kaum kafir quraisy untuk
menghambat dakwah nabi muhammad saw
Pertama,
mengejek, menghina, merendahkan, mendustai dan menertawakan. Target mereka
adalah menghinakan kaum muslimin dan melemahkan semangat juang mereka. Mereka
selalu menuduh rasulullah saw dengan tuduhan-tuduhan yang kerdil dan
celaan-celaaan yang nista; menjuluki beliau sebagai orang gila[3]
Kedua,
memperburuk citra ajaran-ajaran yang dibawanya, menyebarkan syubhat-syubhat,
menyebarkan dakwaan-dakwaan dusta, menyiarkan aneka pernyataan yang keliru
seputar ajaran-ajaran, diri, dan pribadi beliau serta membesar-besarkan tentang
hal itu[4].
Ketiga,
menghalangi orang-orang agar tidak dapat mendengarkan Al-qur’an dan
mengimbanginya dengan dongengan-dongengan orang-orang dahulu serta membuat
sibuk mereka dengan hal itu[5].
Akantetapi
nabi muhammad tetap gigih dalam mensyiarkan agama islam meskipun kaum kafir
quraisy memusuhi dan mencaci maki beliau. Kaum kafir quraisy pun tidak tinggal
diam dalam usahanya menghentikan dakwah nabi muhammad saw, bahkan kaum kafir
quraisy mulai melakukan penindasan dan penyiksaan terhadap nabi muhammad dan
kaum muslimin
4. Dakwah
nabi muhammad saw di madinah
A.
Faktor yang menorong hijrahnya Nabi saw
1.
Ada tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib, karena:
pada
tahun 621 M telah dating 13 orang penduduk Yatsrib menemuiNabi saw di bukit
Akabah.pada tahun berikutnya, 622 M datang lagi sebanyak 73 orang Yatsrib ke
Mekkah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj
2.
Rencana pembunuhan Nabi saw oleh kaum Quraisy
3.
masyarakat madinah mempunyai hati yang lembut, penuh pertimbangan dan cerdas
4.
penyiksaan dan penindasan dari kaum kafir quraisy terhadap rasulullah saw dan
kaum muslimin semakin menjadi-jadi
kepercayaan
masyarakat madinah pra-islam
sebelum
kedatangan islam ke kota yatsrib, masyarakatnya telah memiliki agama atau
kepercayaan. Agama yang dianut sebagian masyarakat kota ini adalah agama yahudi
dan nasrani, selain agama pagan[6]. Kabilah yang menganut agama yahudi adalah
bani qainuqa, bani nadhir, bani gathafan, dan bani quraydloh, sedangkan kabilah
yang menganut agama nasrani adalah bani najran.
Periode
madinah dapat dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu tahapan pertama, banyak
diwarnai dengan cobaan, guncangan dan rintangan, baik dari dalam kota Madinah
maupun dari luar Madinah, khususnya orang quraisy. Tahap ini berakhir dengan
dikukuhkannya perjanjian Hudaibiyah pada zulqa’dah tahun keenam hijriyah.
Tahapan kedua, ditandai dengan perdamaian dengan para pemimpin kaum musyrikin
yang berakhir dengan terjadinya Fathu Makkah pada ramadhan tahun ke-8
dari awal hijrah. Peristiwa ini menandai tahapan awal Rasulullah saw kepada
para penguasa agar masuk islam. Tahapan ketiga, ditandai dengan masuknya
manusia ke dalam islam secara berbondong-bondong, yaitu masa kedatangan para
utusan dari berbagai kabilah dan kaum ke madinah. Masa ini berkahir ketika
wafatnya rasulullah saw pada rabi’ul awwal tahun sebelas hijriyah[7].
Cara
rasulullah saw berdakwah di madinah
A. Membangun
masjid nabawi
Langkah
pertama yang dilakukan oleh rasulullah saw di madinah adalah membangun masjid
sebagai pusat kegiatan umat. Di masjid inilah semua pusat kegiatan umat islam
dilakukan baik dalam urusan agama seperti shalat, tempat menimba ilmu dari
rasulullah saw, maupun dalam urusan sosial seperti sebagai tempat balai
pertemuan, tempat untuk mempersatukan berbagai kabilah, sebagai tempat mengatur
berbagai urusan kemasyarakatan, sekaligus tempat sebagai menjalankan roda
pemerintahan.
B. Mempersaudarakan
kaum anshor dan muhajirin
Rasulullah
saw melakukan tindakan yang sangat luar biasa yakni mempersaudarakan kaum
anshor dan muhajirin, tindakan ini bertujuan untuk memperkuat ukhuwah
islamiyah antar sesama umat muslim di madinah serta menegaskan bahwa
perbedaan keturunan, warna kulit dan kekayaan tidak menyebabkan seseorang itu
unggul, karena keunggulan seorang manusia ditentukan oleh ketaqwaannya.
C. Membuat
perjanjian dengan kaum yahudi madinah
Nabi
muhammad membuat langkah yang sangat strategis dalam upaya dakwahnya di madinah
yakni membuat perjanjian dengan kaum yahudi agar tujuan dan target dakwahnya
berhasil, tanpa merasa khawatir atas berbagai gangguan dan ancaman. Nabi
muhammad melakukan musyawarah dengan para sahabat dari kalangan muhajirin dan
anshor untuk merumuskan pikiran yang akan dijadikan undang-undang yang
didalamnya terkandung aturan yang dibuat untuk kaum muhajirin, anshor, yahudi
dan kaum musyrikin lainnya agar bersedia hidup berdampingan dengan umat islam
secara damai. Undang-undang ini dikenal dengan nama piagam madinah.
D. Respons
masyarakat madinah terhadap dakwah nabi muhammad saw
Sejak
rasulullah saw menetap di madinah beliau senantiasa berdakwah menyebarkan agama
islam kepada seluruh masyarakat madinah. Dakwah yang dilakukannya itu mendapat
sambutan beragam, ada yang menerima dan kemudian masuk islam dan ada pula yang
menolak secara diam-diam, misalnya orang yahudi yang tidak senang dengan
kehadiran nabi dan umat islam. Penolakan ini mereka lakukan secara diam-diam
karena mereka tidak berani berterus terang untuk menentang nabi dan umat islam
yang mayoritas tersebut[8].
E. Perdamaian
hudaibiyah : kemenangan dakwah islam
Setelah
kaum muslimin menang dalam perang khandak umat islam sangat ingin sekali
mengunjungi mekkah, tepatnya pada tahun 6 H atau 628 M kaum muslimin dan
rasulullah pergi ke mekkah untuk menunaikan umrah. Pada saat itu bertepatan
dengan bulan zulkaidah yang menurut tradisi masyarakat arab diharamkan untuk
berperang. Kaum kafir quraisy yang mengetahui hal tersebut langsung menghalang
kaum muslimin, namun rasulullah saw mengutus usman bin affan untuk menjelaskan
niat kaum muslimin kembali ke mekkah. Akhirnya kesepakatanpun terjadi yang
isinya antara lain
·
Kedua belah pihak sepakat mengadakan
genjatan senjata selama 10 tahun.
·
Setiap orang diberi kebebasan bergabung
dengan muhammad saw atau menjalin perjanjian dengan muhammad saw, dan demikian
juga setiap orang diberi kebebasan bergabung dengan kelompok quraisy atau
menjalin perjanjian dengan mereka.
·
Siapa yang pergi bergabung dengan
muhammad saw tanpa alasan yang dapat dibenarkan, ia harus dicegah dan
dikembalikan kepada walinya, tetapi jika pengikut nabi muhammad saw hendak
bergabung dengan kelompok quraisy, maka ia harap dibenarkan
·
Pada tahun ini rombongan muhammad saw
harus kembali ke madinah. Pada tahun berikutnya mereka diizinkan menjalankan
ibadah haji dengan syarat bahwa di mekkah tidak lebih dari 3 hari, dengan tanpa
membawa senjata
Perjanjian
hudaibiyah ini menimbulkan manfaat yang positif diantaranya : gencatan senjata
yang dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun itu dapat dimanfaatkan dengan
menyebarkanluaskan agama islam, kearifan sikap nabi muhammad saw dalam
perjanjian ini telah menarik simpati dari orang-orang quraisy, yang menyebabkan
beberapa orang quraisy masuk islam.
F. Fath
al makkah : kemenangan dalam islam
Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh
kaum kafir quraisy yang melanggar perjanjian hudaibiyah sehingga timbullah
beberapa usulan yang ditawarkan kepada kaum kafir quraisy, namun pada akhirnya
kaum kafir quraisy memilih untuk berperang. Tiada jalan lagi bagi nabi muhammad
kecuali mempersiapkan pasukan untuk berperang. Dalam waktu yang singkat nabi
muhammad saw berhasil mengumpulkan 10.000 pasukan untuk bergerak menuju mekkah.
Sebenarnya pasukan umat islam yang besar itu tidak dimaksudkan untuk memerangi
orang-orang quraisy, tapi hanya sekedar peringatan kepada masyarakat kafir
quraisy, bahwa umat islam telah solid dan memiliki kekuatan yang sangat besar[9].
Dalam memasuki kota mekkah rasullah
saw membagi pasukannya menjadi 4 bagian yaitu utara, selatan, barat dan timur
sehingga kota mekkah terkepung dari segala penjuru. Hal tersebut menyebabkan
kaum kafir quraisy tidak mampu melawan pasukan islam. Akhirnya tepat pada 1
januari 630 M atau 20 ramadhan 8 H mekkah dapat dikuasai oleh umat islam.
Setelah umat islam dapat menaklukkan mekkah rasulullah saw masuk ke masjidil
haram dan menghancurkan segala bentuk sesembahan seperti berhala dan sebagainya
lalu nabi muhammad saw memerintahkan bilal bin rabbah untuk mengumandangkan
adzan lalu melakukan shalat berjamaah.
Setelah peristiwa fathu makkah
orang-orang mekkah berbondong-bondong menyatakan masuk islam mulai dari paman
nabi abbas bin abdul muthallib serta beberapa pembesar quraisy seperti muawiyah
bin abu sufyan, hindun binti uthbah, muth’ib bin abu lahab, dan umi hanie binti
abi thalib.
G. Haji
wada : tanda berakhirnya tugas nabi muhammad
pada
tahun ke-10 hijriyah, nabi muhammad saw merasa bahwa dakwahnya telah sempurna.
Karena itu, nabi muhammad saw merencanakan untuk menunaikan ibadah haji para
sahabatnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan haji al-wada haji yang
terakhir ( haji perpisahan ). Dikatakan begitu, karena ketika itu nabi berpamitan
kepada para sahabatnya dan menyatakan “ siapa tahu aku tidak dapat lagi bertemu
kalian, setelah tahun ini”. [10]
pada
saat beliau menjalankan haji ini rasulullah saw mendapat wahyu terakhirnya QS
al-maidah ayat 3
yang
artinya pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu dan agamamu, dan telah
kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai islam itu jadi agamamu.
Pada
senin tanggal 12 rabiul awwal bertepatan dengan tanggal 8 juni 632 M rasulullah
saw menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelas hari menderita sakit akibat
terkena racun yang diberikan wanita yahudi ketika perang khaibar. Demikianlah
kehebatan rasululllah saw dalam usahanya menegakkan agama islam, beliau adalah
laki-laki yang tidak tertandingi sepanjang umat manusia.
[2]
Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing,
2010, hal.95
[3]
Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing,
2010, hal.99
[4]
Shafiyyur rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing,
2010, hal.100
[5]Shafiyyur
rahman al mubarakfury, sirah nabawiyah, bandung, sygma publishing, 2010,
hal.100
[6]
murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana
prenada media group, 2013, hal. 111.
[8].
murodi, dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana
prenada media group, 2013, hal. 134.
[9]murodi,
dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada
media group, 2013, hal. 157.
[10]murodi,
dakwah islam dan tantangan masyarakat quraisy, jakarta, kencana prenada
media group, 2013, hal. 165.

0 komentar:
Posting Komentar